Hiii ini Kali pertama aku nulis lagi... Sebetulnya aku dulu belum faham bagaimana menulus baik ternyata segala sesuatu itu bisa mulai dari yang tidak sempurna dan perlahan di perbaiki dari pada menuntut awal yang harus perfek dan tanpa cela yang akhirnya justru tetap banyak celahnya
Oke tanpa basa basi lagi pertama kenapa aku mulai nulis lagi? Karna aku merasa setahun terakhir ini aku merasa depresi Dan aku baru mengetahuinya akhir-akhir ini setelah melakukan tes, beberapa bulan yang kalau aku sempat curiga kalau aku stress karena banyak hal yang selalu aku fikirkan tanpa bercerita kepada siapapun yang ternyata itu yang membuatku stressku makin memburuk, untungnya aku masih terselamatkan karena profesiku yang membuatku lupa akan stressku walau sejenak
Baiklah pada kesempatan kali ini mari kita uraikan apa saja yang membuatku depresi selama setahun terakhir ....
1. Aku belum menemukan seseorang yang aku inginkan untuk menjadi pendamping hidupku
Iya kalian ga Salah baca sebetulnya gambaran awalku aku ingin menikah muda di usia 23-25 tahun tapi terkadang takdir memang tidak selalu berpihak dengan keinginan kita, berawal dari trauma pertama ku di tempat kerja (kita cerita itu kapan-kapan) setelah cukup pulih dari luka aku tersadar bahwa circle ku bernada di kalangan wanita tanpa ada pria yang dapat aku jadikan relasi, jangankan mendapatkan pasangan bahkan teman pria yang bisa aku hubungi dengan akrab tidak ada saat itu, Dan aku baru tersadar aku benar-benar ingin serius menikah di tahun kemarin. Dengan tersadarnya diri ini akan fakta circle baru ini aku mempercayakan masalah mencari pasangan pada relasi orang tua, dan lagi-lagi takdir tidak berjalan sesuai keinginanku, aku berkenalan dengan orang yang ketika mendengar asal usulnya yang sudah ingin serius dengan wanita lain mendadak berubah 180° ketika orang tuanya menyuruhnya berkenalan denganku yang cuman di lihat dari sebuah foto (lemah sekali cintanya wkwkwk) (note: foto wisudaku memang foto yang tercantik dengan riasa full make up yang kebetulan sesuai dengan karakter wajahku aku terlihat berkali-kali lebih cantik di foto itu) dan benar saja lelaki ini memang lelaki yang menyebalkan (rasanya seperti permen karet yang menempelndi rambut hingga bikin jengekel) setelah bersusah parah dengan darah dan air mata akhirnya aku berhasil dengan baik memutuskan hubungan dengan lelaki ini. (bahkan aku pernah di kenalkan debgan laki-laki lajang umur 40thn) Singkatnya aku jadi tahu jika orang tuaku tidak bisa di andalkan sama sekali dalam urusan ini.
Baik kita mulai lagi dengan pemetaan masalahnya ingin menikah-> ga punya chanel untuk debut-> minta tolong orang tua carikan pasangan-> berakhir tidak bisa di harapkan saking menyedihkannya -> aku mencari cara alternatif lain dengan lewat aplikasi kencan taaruf. Awalnya aku senang Karna bertemu dengan orang baru orang yang asik untuk mengobrol tapi aku lupa satu Hal penting. Aku yang selama ini tidak pernah punya pacar bingung Dan tidak mengerti apa dan bagaimana cara merawat hubungan pdkt, akhirnya sudah bisa di tebak perkenalanku dengan orang-orang tersebut hanya bertahan kurang dari satu tahun, bahkan seringnya hanya seminggu atau 3 hari saja, karena aku yang tidak tahan jika mereka ingin selalu di kabari 24/7 minta telpon video call argh ribed mending udahan aja! Aku tidak mau terim telfon apalagi video callereka yang ngajak duluan pasti berakhir tidak akan lama setelahnya karena mengecapku sok jual mahal sok sibuk dan sebagainya aku semakin frustasi dan menyalahkan diriku yang tidak berguna saat itu.
Sampai akhirnya pencarianku terhenti pada satu pemuda yang mengenalkan dirinya berma Zen, awalnya aku cerara tidak sengaja mengklik terima CV sampai pada akhirnya aku dan dia sama-sama membaca CV lengkap masing2, ternyata dia sekufu dalam hal minat tontonan, ya kami di satukan dengan tontonan kesukaan kami Detective Conan, awal pdkt terasa seru dan menyenangkan karena kami memiliki topik yang sama kami memiliki hal yang sama untuk di bicarakan dengan serius Dan aku secara tidak terduga mengajaknya bertemu setelah seminggu berkirim chatting, Walaupun agak kecewa ternyata orang aslinya ternyata hanya 'cukup manis' mengingat seleraku yang sangat tinggi dengan penampilan dan wajah, aku mentolelir nya karena wawasannya yang luas, kemampuan EQ nya yang tinggi yang menurutku dia sudah cukup matang secara emosional untuk menjadi kepala keluarga (setidaknya aku tidak akan di marahin dengan kasar jika dia suaminya) Walaupun keras kepalanya itu dan kemungkinanya akan menjadi patriaki masih menjadi pertimbangan, itulah yg ku fikirkan.
Setelah depan bulan berkenalan aku mulai ragu dan sering berfikir ulang, dia yang di profilnya menulis 'membutihkan waktu setahun untuk memutuskan menikah' apakah akan mngajakku menjadi pendampingnya atau justru malah memilih mundur, Walaupun aku merasa hubungan baik-baik saja tapi aku merasa seperti belum mengobrol dengan tuntas dengannya, apa yaa rasanya aku terlalu cangung untuk membahas Hal serius karena aku mulai menyukainua, rasanya takut untuk menanyakan dan malah berakhir dia membenciku dan berakhir bad ending seperti yang sebelum-sebelumnya, mengapa aku takut karena aku yakin dengan pasti kalau aku kehilangan yang ini Kali ini aku mungkin tidak akan bertemu dengan orang yang seperti ini kedepannya jadi aku putuskan bernada di zonasi aman membahas hal-hal remeh sambil menunggu satu tahun berlalu, tetapi rasanya fikiran ini merasa tidak beres dan ingin mengobrol lebih serius dengannya tetapi aku merasa aku bukan siapa-siapanya seharusnya aku mulai serius setelah dia mulai menunjukkan komitmen yang serius juga kan? Itulah dilemma yang saat ini aku pikirkan
Ah syaraf di kepala sebelah kiriku selalu sakit setiap Kali aku depresi memilirkan tentang Hal ini, kalau aku bisa bebebicara dengan syarafku aku ingin meminta maaf padanya karena akhir-akhir ini dia bekerja terlalu keras kerena diriku yang depresi, mungkin kisah cintaku masih memerlukan beberapa episode tambahan sebelum berakhir dengan happy ending, aku berharap kisah ini akan berakhir bahagia sebelum usiaku genap 27thn, segitu dulu untuk hari ini